Kamis, 08 Agustus 2013

Broadcaster ?.....Why Not.

Setiap hari otak dan pikiran kita terus disuguhi dengan berbagai peristiwa atau kejadian di dunia yang dapat dengan mudah kita dapatkan melalui media televisi, radio, dan berbagai media massa lainnya. Berita mengenai bencana angin tornado di Amerika, perang Irak yang tiada akhir, atau berita politik di Indonesia yang semakin carut marut dapat kita peroleh dengan mudah dari media massa. Tapi, siapakah orang-orang yang paling penting dalam kejadian-kejadian tersebut? Adalah para pekerja media; wartawan, reporter, pembaca berita, dan berbagai unsur lainnya yang dalam bahasa kerennya ialah seorang "Broadcaster" (istilah untuk seorang yang bekerja didunia Perfilman/Broadcasting)


TIDAK salah untuk memilih jurusan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan tekhnik. Tapi coba kini dipikirkan mau sampai hanya jurusan itu-itu saja yang terbenak dipikiran kita, apa pengetahuan kita masih minim, padahal masih banyak jurusan yang bagus dan berpeluang mendapatkan pekerjaan. Sampai kapan kita seperti itu yang ada kita akan ketinggalan di dunia Globalisasi Informasi dan Kreatifitas.

 Broadcasting merupakan salah satu dari Ilmu Komunikasi, tetapi di Broadcasting lebih di tekankan untuk penyiaran Televisi dan Radio. Dari saya masih kelas 2 SMK saya senang yang namanya dunia Penyiaran, karena menurut saya menjadi seorang Broadcaster itu keren, menantang, deg-degan, penuh petualang, dan menggenggam dunia.(kutipan iklan Jurnalis di SCTV) hehehe......
Setalah tamat dari SMK saya bertekad untuk kuliah yang berhubungan dengan Ilmu Komunikasi, kebetulan salah satu kakak di Lingkungan ibadah saya adalah Mahasiswa Fakultas Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia memberi masukan sebaiknya saya kuliah di Bina Sarana Informatika (BSI)  yang siap kerja. akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu semua hal yang menyangkut dunia perfilman, dan dengan dukungan penuh dari keluarga dan kakak-kakak, saya akhirnya menetapkan pilihan untuk melanjutkan jenjang pendidikan saya di jurusan Broadcasting.
Akhirnya waktu yang ditunggu itu tiba juga, setelah saya menyelesaikan sekolah saya, lalu dia memberi penjelasan kepada saya tentang bagaimana sistem perkuliahan yang nanti akan saya jalani. 

BSI merupakan perguruan Tinggi swasta kampusnya ada dimana-mana sehingga mahasiswa memilih kampus yang lebih dekat dari tempat tinggalnya. Selain itu BSI mampu untuk terjun langsung ke lapangan kerja yang luas, biaya kuliah yang relatif murah.
BSI yang berbentuk akademik memliki 6 Akademi salah satunya Akademi Komunikasi (akom) yang mempunyai 3 Jurusan yaitu Public Relation (Kehumasan), Broadcasting (Penyiaran), Advertising (Periklanan). Tanpa Berpikir panjang saya memilih jurusan Broadcasting. Kampus BSI 45  terletak di Jalan Salemba Tengah No.45, Jakarta Pusat lah yang saya tuju.
Awal perkuliahan  saya yang masih buta dengan semua mata kuliah di semester 1, seperti Announching, photografi, Pengantar Dunia Penyiaran, Pengantar Ilmu Komunikasi. ilmu Announching (ga ngerti apa artinya!! hehe...) pada intinya semua itu adalah mata kuliah basic yang harus benar benar kita mengerti.
ilmu terapan tentang bagaimana cara berbicara kepada publik dengan benar dan jelas, bagaimana seorang presenter ketika  kejar deadline berlari-lari agar nafasnya tidak tergganggu dan dapat diliput oleh kameramen dengan maksimal.
Photografi,: bagaimana belajar 6 teknik dasar memotret, menyampaikan pesan dari setiap foto yang kita ambil, & akhirnya membuat pameran photografi dari hasil karya kami semua.
dan Dunia Penyiaran,,,,heemm....ini mata kuliah yang paling keren sih menurut saya, disini kita belajar apa-apa saja yang ada pada radio dan televisi, mengenal perlengkapan dan alat-alat studio radio dan televise. Kerja dibelakang layar menjadi kameramen, Floor Director, Program Director, Switcerman, Audioman, Editor, Spesial Effect Artist, sampai akhirnya kita mengunjungi Production House "Karnos Film"...
serta Ilmu komunikasi bagaimana sesungguhnya komunikasi di media itu.

setelah saya cari tahu, ternyata Broadcasting BSI banyak bekerjasama dengan FFTV IKJ karena sebagian Dosen IKJ juga mengajar di Broadcasting BSI. menurut saya itu adalah hal yang sangat bagus, asal kalian tahu ya, FFTV-IKJ adalah satu satunya anggota "Asossiasi Sekolah Film & Televisi Internasional" (CILECT) yang mewakili Indonesia, bahkan FFTV-IKJ menjadi ketua perwakilan Cilect untuk Asia Pasific. bagus dunk, jadi seengganya ilmu kita gak beda-beda jauh sama lulusan FFTV-IKJ. hahay....
Di perkuliahan broadcasting jarang yang namanya teori sehingga kebanyakan belajar langsung praktek lapangan seperti mendatangi Radio terkemuka Prambos Fm, Kiss Fm, Trans TV, Metro TV, SCTV, Karnos Film dan paling menyenangkan kita belajar tidak pernah per individu tetapi perkelompok, sehingga mahasiswa broadcasting itu harus lincah, banyak bergerak, suka jalan-jalan, kompak, tidak boleh mengeluh, mampu bergaul dan berkomunikasi dengan siapapun. Sehingga dengan mudah mahasiswa sudah terbiasa mengenal dunia penyiaran itu.
Selain itu mengapa saya memilih broadcasting karena jurusan ini anti yang namanya matematika, jadi kalau ada seseorang yang dari awal tidak suka pelajaran matematika, segeralah masuk Jurusan Broadcasting. UTS dan UAS nya pun rata-rata membuat karya bukan bukan berbentuk ujian. Kini berjalannya waktu saya memasuki semester 2,  yang sebelumnya saya sudah banyak memperoleh pengalaman dan pelajaran di bidang radio dan pertelevisian bagaimana kerja di balik layar. Di semester 2 ini saya memasuki mata kuliah penulisan naskah, manajemen produksi, videografi dan tata cahaya, perencanaan program radio  dan televisi, serta etika profesi penyiaran.
Dengan mata kuliah sedemikian rupa, saat ini saya belajar bagaimana buat FTV (Film Televisi), menentukan anggaran, etika penyiaran yang terkait dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), membuat desain produksi, cara menjadi produser,videografi dan tata cahaya di televisi. Serunya kuliah di broadcasting banyak pengalaman, aktif, energi, berkarya tanpa henti. Semoga kelak saya bisa menjadi Broadcaster yang handal. Kuliah di broadcsating itu Keren Lho.

Kamis, 04 April 2013

Film Rectoverso, Menurut Saya.......

Setelah kecewa berat sama interpretasi Perahu Kertas dari buku ke film (kecuali bagian Reza Rahadiannya), gue menaruh harapan yang cukup tinggi untuk film Rectoverso ini. Nggak, gue nggak akan bikin review suka-sukanya, gue nggak berminat ditimpuk massa untuk sebuah karya yang sudah banyak fansnya sebelumnya. Bukunya pun gue suka sekali, gue inget hari-hari gue membacanya dan sibuk nyatet puisi/lirik lagu di setiap cerpen ke buku quotes gue. Gue inget gue menstabillo kalimat-kalimat bagus di cerpen-cerpennya.

Gue udah lama banget nggak baca buku itu, jadi udah nggak terlalu inget sama ceritanya. Favorit gue dari buku itu adalah “Malaikat Juga Tahu” sama “Aku Ada.” “Aku Ada” juga termasuk lagu favorit gue.

Lalu pergilah gue menonton film ini. Secara pengemasan, soundtrack, dan script, menurut gue semuanya bagus dan tertata rapi. Nggak ada rasa “gemes” sama setting atau wardrobe di film ini (masih trauma inget baju-baju Kugy dan kupluk merah penjaga villanya itu), nggak ada gimmick yang bikin gubrak seperti radar jarinya Kugy.

Yang buat gue kurang sreg adalah pengejawantahan ceritanya dari novel ke gambar bergerak. Apa yang ketika dibaca terkesan puitis dan “nyesss” di hati, begitu diucapkan aktor, belum tentu efeknya sama. Entahlah, apa gue yang nonton di mood yang salah atau memang nggak cocok aja sama bagian-bagian tertentu di film ini.

Anyway…

Gue sukaaa banget sama film “Malaikat Juga Tahu”, sukses bikin gue nangis bombay di dalam bioskop. Aktingnya Lukman Sardi keren banget dan bikin hati kesayat-sayat nontonnya. Pun dengan akting pemeran Ibunya. Prisia Nasution juga patut gue acungi jempol karena aktingnya natural dan “pas” aja gitu. Kesan anak kosan yang sederhana, baik hati, tapi adorable bisa gue dapatkan dari karakter Prisia di film ini.

Soal “Cicak di Dinding”, kalau gue pribadi memang nggak tertarik sama ceritanya dan jijik sama cicak juga, jadi ya pasrah aja nontonin ceritanya. Nggak ada komentar berarti untuk film yang ini. Menurut gue pemilihan castnya hampir tepat. Sophia Latjuba dapet banget karakter “seductive”nya, ya karena secara natural pembawaannya juga seksi, ya. Cuma kadang gue agak terdistraksi sama penampilannya, karena entah karena salah angle atau karena make upnya, kadang mukanya keliatan kayak…… laki, sehingga (menurut gue) kesan seksinya buyar. Ini sering terlihat waktu dia lagi full make up dengan alis digambar agak tinggi, pas adegan dia lagi di coffee shop baru jadi cantik lagi karena terlihat lebih natural.

Masuk ke “Firasat”, chemistry Asmirandah dan Widyawati menurut gue “dapet” banget. Gila dah nih perempuan berdua, cantik-cantik bener. Akting Asmirandah pun OK terutama pas adegan nangis waktu dia mimpi buruk. Keren! Gue agak bertanya aja si Asmirandah ini kerjanya apaan, apakah masih sekolah atau apa, kenapa kerjanya tiap hari cuma anter kue sama ke Klub Firasat. Klub ini dibuat untuk orang-orang yang sering mendapat firasat (yang nggak semua orang merasakan) supaya mereka bisa berbagi kegelisahan karena firasat itu. Sebuah klub yang… ketika difilmkan, jadinya garing banget. Kalau buat gue, ya. Karena pas mereka ngumpul bareng lebih banyak diemnya gitu, dan gue bertanya-tanya apakah kalau bisa diwujudkan beneran di dunia nyata, apa bener orang-orang akan bikin klub seperti ini yang faedahnya gue nggak lihat sama sekali. Kira-kira setara dengan “Klub Bisa Liat Hantu”, “Klub Galau on Social Media is a Key to Gain Followers”, dan klub-klub kurang berarti lainnya. Tentu saja gue nggak bisa kritik, lha wong cerita asalnya dibuku juga begitu. Maksud gue adalah, mungkin kalo ditransfer ke dalam bentuk film, ceritanya bisa dibikin lebih dekat dengan penonton sehingga masih tampak menarik… so we can relate. Misalnya ya… Asmirandah ini masih kuliah dan ikut salah satu klub, entah klub agama apa kek, atau klub sci-fi, atau justru nggak usah pake klub tapi punya sekumpulan teman dan sosok yang bisa menjadi tempat dia sharing soal firasat-firasatnya itu. Jadi ke belakang-belakangnya kita juga jadi lebih enak nontonnya. Menurut gue chemistry antara Asmirandah ke Dwi Sasono juga kurang dapet, dan karena udah nggak tertarik sama premis Klub Firasat ini, the whole philosophic & poetic dialogue between Asmirandah and Dwi Sasono felt empty. I mean, do people in real life talk like that, everyday? Capek juga ya kalo puitis-puitisan dan pasang muka sendu terus setiap hari.

Masuk ke film “Hanya Isyarat”, sebenernya pemilihan castnya sih nggak ada masalah, pun dengan ceritanya. Yang kurang menurut gue, mungkin karena si pemeran cewek ini adalah aktris baru (Amanda Soekasah), jadi intonasinya ketika melakukan narasi masih datar. Perhatiin deh, waktu dia bercerita, ibaratnya nyanyi, itu kayaknya dia nyanyi nadanya “do” semua… berasa datar banget jadi gue sebagai penonton nggak “terseret”. Ketika mereka semua duduk melingkar dan tuker cerita sedih, gue udah mimbik-mimbik aja denger ceritanya Fauzi Badilla, eh ternyata yang ceritanya dianggap paling sedih si cewek tadi (padahal menurut gue kagak sama sekali). Film yang ini menceritakan kalau si cewek naksir sama salah satu cowok di circle itu, tapi dia hanya sanggup mengagumi dari punggungnya saja. Dia nggak tau siapa namanya, apa warna matanya, dan seterusnya. Which I think is ridiculous because the guy is only like…Maybe I failed to catch the meaning of this story: “Cinta yang Tak Terucap.” Mungkin memang ceweknya dibuat karakternya pemalu… mungkin ini sedang menceritakan cinta yang tidak egois yang merasa tidak perlu memiliki, bahkan untuk melihat orangnya dari jauh aja sudah cukup. Yang mana membuat gue bertanya-tanya, cinta macam apa yang tidak mau memiliki? Beda situasinya kan kalau misalnya si cewek ini cuma bisa ngeliatin punggung si cowok karena memang dia nggak bisa kenalan (tapi satu gedung kantor, satu komplek, atau apa kek). Akan beda kalau dia cuma bisa ngeliatin punggung si cowok karena lakinya udah punya pacar misalnya, atau dia difriendzone, atau gimana… sedihnya “dapet” gitu. Lah ini lakinye jelas-jelas ada depan mata, temennya temen-temen lo, duduk sebelahan, tinggal kenalan aja gitu. Yah lagi-lagi, mungkin gue gagal menangkap maksud cerita ini, bahwa karakter-karakter ini cuma medium untuk si empunya cerita menyampaikan pesan dan persepsinya tentang cinta.

Masuk ke “Curhat Buat Sahabat”, menurut gue ini adalah cast yang nggak ada chemistry sebagai sahabat sama sekali. Yang satu terlihat kayak ABG, satu lagi ketuaan. Kalau soal akting, gue sih nggak meragukan keduanya, cuma karena gue nggak merasakan ada chemistry, jadi banyak krik krik momen kalo menurut gue. Susah ya memang kalau bikin adegan yang isinya cuma full on ngobrol doang, kalau antar castnya nggak “klik”, bisa-bisa adegannya nggak bernyawa. Pun sejujurnya gue agak terganggu dengan cara Acha Septriasa bicara (gaya ngomongnya) dan terdistraksi sama… bentuk mulutnya ketika dia berbicara. Maafkan aku Ya Tuhan bukan bermaksud gimana, cuma emang distracting banget. All in all, gue cuma jatuh hati sama “Malaikat Juga Tahu,” tapi tentunya film-film lain patut dihargai karena dikemas dengan sangat baik walaupun di gue nggak “kena.” Ya ini cuma opini penonton yah,

Yang jelas, dukunglah terus film bagus Indonesia. Waktu gue nonton weekend kemarin, sayang sekali yang nonton sepi. Nggak ngerti karena tiket bioskopnya yang mahal, karena nama filmnya nggak familiar dan nggak semua orang tahu bukunya, atau promosi yang kurang gencar atau gimana. Sayang aja kan kalau karya sutradara-sutradara cantik Indonesia ini lewat begitu aja?

Selamat menikmati filmnya!

Jumat, 21 September 2012


efek

Minggu, 29 Juli 2012

bagaimana kita dalam menghadapi kesulitan ?.....

Seorang anak perempuan mengomel kepada ayahnya tentang kehidupannya dan bagaimana keadaan sungguh sangat berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana ia menanganinya dan ia ingin menyerah. Ia lelah untuk terus bertarung dan berjuang. Sepertinya ketika satu masalah diselesaikan timbul masalah lain.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur, lalu mengisi 3 panci dengan air dan meletakkannya di api. Tak lama, air di ketiga panci itu mulai mendidih.
Di satu panci ia meletakkan wortel, di panci lain ia meletakkan telur, dan di panci terakhir ia meletakkan biji-biji kopi. Ia membiarkannya mendidih, tanpa berkata sepatah kata apapun.
Anak perempuannya dengan tidak sabar bertanya-tanya dalam dirinya apa yang ayahnya lakukan. Ia memiliki masalah, dan ayahnya membuat ramuan aneh. Setengah jam kemudian, sang ayah berjalan ke kompor dan mematikan apinya. Ia mengambil wortel dan telur lalu meletakkannya di piring. Kemudian mengambil kopi dari panci terakhir dan meletakkannya di gelas.
Sang ayah bertanya, "Sayang apa yang kamu lihat,"

Dengan cepat, ia menjawab, "Wortel, telur, dan kopi."

Sang ayah membawanya lebih dekat dan memintanya untuk meraba wortel. Ia melakukannya dan merasakan wortel itu sudah lunak. Sang ayah lalu menyuruhnya mengambil telur yang sudah direbus itu dan memecahkannya. Setelah membuka cangkang telur, ia mengamati isinya yang padat. Akhirnya, sang ayah menyuruhnya untuk meminum sedikit kopinya. Wajahnya berkerut merasakan kekuatan rasa kopi itu.

Ia bertanya, "Apa maksud dari ini semua ayah?"

Sang ayah menjelaskan, "Setiap benda ini mengalami hal yang sama, 100 derajat air panas. Tetapi setiap benda bereaksi secara berbeda."

"Wortel pada mulanya masuk dengan keadaan kuat dan keras. Tetapi setelah melalui air mendidih, ia menjadi lunak dan lemah."

"Telur sangatlah rapuh. Cangkang luar yang tipis melindungi cairan di dalamnya. Tetapi setelah berada dalam air mendidih, dalamnya menjadi mengeras."

"Akan tetapi biji kopi adalah unik. Setelah mereka berada di air mendidih, ia menjadi semakin kuat dan kaya rasa dan baunya." "Yang mana dirimu?" Sang ayah bertanya pada anak perempuannya.

Ketika kesulitan mengetuk pintumu, bagaimana kamu menanggapinya?

Apakah kamu adalah wortel, telur, atau biji kopi?

Apakah kamu wortel yang terlihat kuat, tetapi dengan sedikit rasa sakit, kesulitan, panas kamu menjadi lesu dan lunak tanpa kekuatan?

Apakah kamu telur, yang awalnya memiliki hati yang lunak dan semangat yang terus mengalir seperti cairan? Tetapi setelah sebuah kematian orang terdekatmu, sebuah perpisahan, sebuah perceraian, sebuah PHK kamu menjadi keras dan kaku. Cangkangmu terlihat sama, namun kamu hati dan jiwamu berubah menjadi sangat keras dan kaku.

Atau kamu seperti biji kopi? Biji kopi tidak mendapatkan rasa dan aroma yang kuat sampai ia dipanaskan dalam air mendidih 100 derajat. Ketika keadaan semakin buruk, kamu justru semakin baik. Ketika hari-hari semakin kelam, ujian-ujian semakin berat, jiwamu justru naik ke level selanjutnya.

Bagaimana kamu menangani kesulitan? Apakah kamu wortel, telur, atau biji kopi?