Setelah kecewa berat sama interpretasi Perahu Kertas dari buku ke film (kecuali bagian Reza Rahadiannya), gue menaruh harapan yang cukup tinggi untuk film Rectoverso ini. Nggak, gue nggak akan bikin review suka-sukanya, gue nggak berminat ditimpuk massa untuk sebuah karya yang sudah banyak fansnya sebelumnya. Bukunya pun gue suka sekali, gue inget hari-hari gue membacanya dan sibuk nyatet puisi/lirik lagu di setiap cerpen ke buku quotes gue. Gue inget gue menstabillo kalimat-kalimat bagus di cerpen-cerpennya.
Gue udah lama banget nggak baca buku itu, jadi udah nggak terlalu inget sama ceritanya. Favorit gue dari buku itu adalah “Malaikat Juga Tahu” sama “Aku Ada.” “Aku Ada” juga termasuk lagu favorit gue.
Lalu pergilah gue menonton film ini. Secara pengemasan, soundtrack, dan script, menurut gue semuanya bagus dan tertata rapi. Nggak ada rasa “gemes” sama setting atau wardrobe di film ini (masih trauma inget baju-baju Kugy dan kupluk merah penjaga villanya itu), nggak ada gimmick yang bikin gubrak seperti radar jarinya Kugy.
Yang buat gue kurang sreg adalah pengejawantahan ceritanya dari novel ke gambar bergerak. Apa yang ketika dibaca terkesan puitis dan “nyesss” di hati, begitu diucapkan aktor, belum tentu efeknya sama. Entahlah, apa gue yang nonton di mood yang salah atau memang nggak cocok aja sama bagian-bagian tertentu di film ini.
Anyway…
Gue sukaaa banget sama film “Malaikat Juga Tahu”, sukses bikin gue nangis bombay di dalam bioskop. Aktingnya Lukman Sardi keren banget dan bikin hati kesayat-sayat nontonnya. Pun dengan akting pemeran Ibunya. Prisia Nasution juga patut gue acungi jempol karena aktingnya natural dan “pas” aja gitu. Kesan anak kosan yang sederhana, baik hati, tapi adorable bisa gue dapatkan dari karakter Prisia di film ini.
Soal “Cicak di Dinding”, kalau gue pribadi memang nggak tertarik sama ceritanya dan jijik sama cicak juga, jadi ya pasrah aja nontonin ceritanya. Nggak ada komentar berarti untuk film yang ini. Menurut gue pemilihan castnya hampir tepat. Sophia Latjuba dapet banget karakter “seductive”nya, ya karena secara natural pembawaannya juga seksi, ya. Cuma kadang gue agak terdistraksi sama penampilannya, karena entah karena salah angle atau karena make upnya, kadang mukanya keliatan kayak…… laki, sehingga (menurut gue) kesan seksinya buyar. Ini sering terlihat waktu dia lagi full make up dengan alis digambar agak tinggi, pas adegan dia lagi di coffee shop baru jadi cantik lagi karena terlihat lebih natural.
Masuk ke “Firasat”, chemistry Asmirandah dan Widyawati menurut gue “dapet” banget. Gila dah nih perempuan berdua, cantik-cantik bener. Akting Asmirandah pun OK terutama pas adegan nangis waktu dia mimpi buruk. Keren! Gue agak bertanya aja si Asmirandah ini kerjanya apaan, apakah masih sekolah atau apa, kenapa kerjanya tiap hari cuma anter kue sama ke Klub Firasat. Klub ini dibuat untuk orang-orang yang sering mendapat firasat (yang nggak semua orang merasakan) supaya mereka bisa berbagi kegelisahan karena firasat itu. Sebuah klub yang… ketika difilmkan, jadinya garing banget. Kalau buat gue, ya. Karena pas mereka ngumpul bareng lebih banyak diemnya gitu, dan gue bertanya-tanya apakah kalau bisa diwujudkan beneran di dunia nyata, apa bener orang-orang akan bikin klub seperti ini yang faedahnya gue nggak lihat sama sekali. Kira-kira setara dengan “Klub Bisa Liat Hantu”, “Klub Galau on Social Media is a Key to Gain Followers”, dan klub-klub kurang berarti lainnya. Tentu saja gue nggak bisa kritik, lha wong cerita asalnya dibuku juga begitu. Maksud gue adalah, mungkin kalo ditransfer ke dalam bentuk film, ceritanya bisa dibikin lebih dekat dengan penonton sehingga masih tampak menarik… so we can relate. Misalnya ya… Asmirandah ini masih kuliah dan ikut salah satu klub, entah klub agama apa kek, atau klub sci-fi, atau justru nggak usah pake klub tapi punya sekumpulan teman dan sosok yang bisa menjadi tempat dia sharing soal firasat-firasatnya itu. Jadi ke belakang-belakangnya kita juga jadi lebih enak nontonnya. Menurut gue chemistry antara Asmirandah ke Dwi Sasono juga kurang dapet, dan karena udah nggak tertarik sama premis Klub Firasat ini, the whole philosophic & poetic dialogue between Asmirandah and Dwi Sasono felt empty. I mean, do people in real life talk like that, everyday? Capek juga ya kalo puitis-puitisan dan pasang muka sendu terus setiap hari.
Masuk ke film “Hanya Isyarat”, sebenernya pemilihan castnya sih nggak ada masalah, pun dengan ceritanya. Yang kurang menurut gue, mungkin karena si pemeran cewek ini adalah aktris baru (Amanda Soekasah), jadi intonasinya ketika melakukan narasi masih datar. Perhatiin deh, waktu dia bercerita, ibaratnya nyanyi, itu kayaknya dia nyanyi nadanya “do” semua… berasa datar banget jadi gue sebagai penonton nggak “terseret”. Ketika mereka semua duduk melingkar dan tuker cerita sedih, gue udah mimbik-mimbik aja denger ceritanya Fauzi Badilla, eh ternyata yang ceritanya dianggap paling sedih si cewek tadi (padahal menurut gue kagak sama sekali). Film yang ini menceritakan kalau si cewek naksir sama salah satu cowok di circle itu, tapi dia hanya sanggup mengagumi dari punggungnya saja. Dia nggak tau siapa namanya, apa warna matanya, dan seterusnya. Which I think is ridiculous because the guy is only like…Maybe I failed to catch the meaning of this story: “Cinta yang Tak Terucap.” Mungkin memang ceweknya dibuat karakternya pemalu… mungkin ini sedang menceritakan cinta yang tidak egois yang merasa tidak perlu memiliki, bahkan untuk melihat orangnya dari jauh aja sudah cukup. Yang mana membuat gue bertanya-tanya, cinta macam apa yang tidak mau memiliki? Beda situasinya kan kalau misalnya si cewek ini cuma bisa ngeliatin punggung si cowok karena memang dia nggak bisa kenalan (tapi satu gedung kantor, satu komplek, atau apa kek). Akan beda kalau dia cuma bisa ngeliatin punggung si cowok karena lakinya udah punya pacar misalnya, atau dia difriendzone, atau gimana… sedihnya “dapet” gitu. Lah ini lakinye jelas-jelas ada depan mata, temennya temen-temen lo, duduk sebelahan, tinggal kenalan aja gitu.
Yah lagi-lagi, mungkin gue gagal menangkap maksud cerita ini, bahwa karakter-karakter ini cuma medium untuk si empunya cerita menyampaikan pesan dan persepsinya tentang cinta.
Masuk ke “Curhat Buat Sahabat”, menurut gue ini adalah cast yang nggak ada chemistry sebagai sahabat sama sekali. Yang satu terlihat kayak ABG, satu lagi ketuaan. Kalau soal akting, gue sih nggak meragukan keduanya, cuma karena gue nggak merasakan ada chemistry, jadi banyak krik krik momen kalo menurut gue. Susah ya memang kalau bikin adegan yang isinya cuma full on ngobrol doang, kalau antar castnya nggak “klik”, bisa-bisa adegannya nggak bernyawa. Pun sejujurnya gue agak terganggu dengan cara Acha Septriasa bicara (gaya ngomongnya) dan terdistraksi sama… bentuk mulutnya ketika dia berbicara. Maafkan aku Ya Tuhan bukan bermaksud gimana, cuma emang distracting banget.
All in all, gue cuma jatuh hati sama “Malaikat Juga Tahu,” tapi tentunya film-film lain patut dihargai karena dikemas dengan sangat baik walaupun di gue nggak “kena.” Ya ini cuma opini penonton yah,
Yang jelas, dukunglah terus film bagus Indonesia. Waktu gue nonton weekend kemarin, sayang sekali yang nonton sepi. Nggak ngerti karena tiket bioskopnya yang mahal, karena nama filmnya nggak familiar dan nggak semua orang tahu bukunya, atau promosi yang kurang gencar atau gimana. Sayang aja kan kalau karya sutradara-sutradara cantik Indonesia ini lewat begitu aja?
Selamat menikmati filmnya!